Tumbal Laut Kidul, 5 Turis Dilaporkan Hilang

Tingginya ombak lautan di pantai selatan pulau Jawa memakan korban. Meski ketinggian gelombang di pantai yang menghadap Laut Kidul atau Samudera Hindia itu belum berada di puncak, namun kondisinya saat ini tergolong harus diwaspadai. Sebab, keadaan pantai bisa mengecoh.

Pinggir pantai yang terlihat surut, kadang-kadang secara tiba-tiba bisa diterjang ombak besar dengan ketinggian sampai tiga meter. Kondisi demikianlah yang terjadi tatkala 12 turis lokal sedang berendam di Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul, Jogjakarta, Sabtu (31/1) pagi.

Saat asyik bermain air di bibir pantai yang menghadap Laut Kidul itu, 12 orang tiba-tiba disapu gelombang besar. Sampai pencarian dihentikan sementara karena cuaca buruk kemarin malam, lima dari 12 turis lokal yang dinyatakan hilang, masih belum ditemukan. Sedangkan 7 turis lainnya berhasil menyelamatkan diri.
Peristiwa nahas tersebut terjadi Sabtu (31/1) sekitar pukul 05.45 WIB. Di antara lima yang dinyatakan hilang itu terdapat dua mahasiswa INSTIPER Jogjakarta, yakni Soni Haryono, 19, asal Papringan, Yogyakarta; serta Eqy, 21, asal Jember, Jatim.

Tiga korban hilang lainnya, semuanya pelajar SMP Muhammadiyah 1 Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Yakni Arif Budi Nugroho, 16, Andrea Setyo Budi, 16, dan Risky Firmansyah, 16. Menurut Komandan Tim Penyelamatan (SAR) Pantai Parangtritis, Suroyo, kejadian yang menimpa lima turis lokal itu berlangsung dalam waktu hampir bersamaan.

Suroyo menuturkan, Soni dan Egy datang lebih dulu ke Parangtritis dengan berboncengan sepeda motor, sekitar pukul 04.30. Saat tiba di kawasan wisata pantai itu, keduanya mampir dulu ke sebuah warung untuk membeli minuman. Usai membeli minuman, mereka selanjutnya berjalan ke bibir pantai dan kemudian berenang.

Pada waktu yang hampir bersamaan, 10 pelajar SMP Muhammadiyah 1 Paguyangan juga menuju ke bagian pantai yang sama, dengan tujuan bermain-main air laut. Saat itu, kondisi pantai sedang surut sehingga mengundang minat untuk berenang.

Hanya saja, mereka tampaknya tidak mengetahui bahwa tidak jauh dari lokasi tempat mereka berenang terdapat banyak palung laut, yaitu sebuah cekungan dengan kedalaman bermeter-meter jauhnya di bawah permukaan air.

“Mereka sebetulnya berada di daerah berbahaya yang dilarang untuk berenang. Kami tidak mengetahui keberadaan mereka,” kata Suroyo. Tiba-tiba, sekitar pukul 05.45 ombak besar datang menerjang. Dua belas orang yang sedang berenang itu kena tersapu ke pinggir namun kemudian terbawa arus balik ombak menuju ke tengah laut. Saat itulah, mereka terjebak di daerah palung.

Tujuh orang yang berhasil berenang sekuat tenaga saat arus balik ombak menyeret, akhirnya selamat. Sedangkan lima orang lainnya hilang terbawa gelombang ganas Laut Kidul. Menjelang malam, Tim SAR Pantai Parangtritis untuk sementara menghentikan pencarian korban hilang karena gelombang masih tinggi hingga 3 meter.

“Untuk sementara pencarian di laut kami hentikan karena gelombang masih tinggi hingga sekitar tiga meter. Saat ini pencarian kami fokuskan dengan penyisiran di sepanjang pantai,” kata Sekretaris SAR Pantai Parangtritis, Taufik Usman, seperti dikutip Antara, Sabtu (31/1).

“Penyisiran di tepi pantai melibatkan 52 personel dan dibantu beberapa mobil jip dari Rotary Club. Sampai saat ini memang belum ada tanda-tanda keberadaan para korban,” tambah dia.
Taufik mengatakan, jika nanti cuaca membaik dan gelombang mulai normal, Tim SAR akan melakukan pencarian kembali di tengah laut.

“Kami juga meminta bantuan nelayan yang melaut untuk memantau jika ada tanda-tanda keberadaan korban,” katanya. Empat guru SMP Muhammadiyah I Paguyangan dan dua rekan mahasiswa yang tenggelam masih berada di pantai untuk ikut melakukan pencarian.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Observasi dan Informasi BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) Maritim Perak Surabaya, Arif Triyono, mengungkapkan bahwa tinggi gelombang di pantai selatan Pulau Jawa saat ini berkisar 0,8–2 meter, sedangkan di lepas pantai antara 2–3 meter.

Tinggi gelombang hingga 3 meter ini, kata Arif, tak hanya berbahaya bagi warga masyarakat yang berenang di pinggir pantai tapi bahkan juga berbahaya bagi para nelayan yang melaut. Apalagi kondisi Laut Kidul dalam beberapa hari ke depan akan diwarnai hujan dengan kecepatan angin antara 10–30 km per jam.
“Di sepanjang laut selatan itu kan banyak perahu nelayan daripada kapal niaga. Makanya para nelayan harus benar-benar berhati-hati,” paparnya.

Berbeda dengan Laut Selatan, laut utara Jawa (antara Selat Madura di Ujung-Kamal hingga Situbondo), ketinggian gelombang relatif masih aman, antara 0,5–1,3 meter. Seperti halnya Pantai Pelabuhan Ratu di Sukabumi (Jawa Barat), selama ini masih ada yang mengaitkan Pantai Parangtritis dengan mitos Nyi Roro Kidul sebagai penguasa Laut Selatan. Sebagian kecil kalangan di masyarakat Jawa menganggap, munculnya korban jiwa di Laut Selatan merupakan `tumbal` untuk penguasa Laut Kidul.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: