Burung dan Anggota Dewan

“Kekuasaan tak pernah mengambil langkah mundur, kecuali berhadapan dengan kekuasaan yang lebih besar”

Dinegara yang menjalankan praktek demokrasi secara benar, antara burung dan anggota dewan perwakilan rakyat niscaya punya prinsip yang sama. Mereka sama-sama diharapkan “vocal”nya. Bedanya, yang satu diharapkan kicauannya yang merdu dan yang lain kedatangannya menyuarakan hati nurani rakyat.

Tapi Laman Siswomihandoyo, anggota DPRD tingkat II Wonogiri dari fraksi ABRI, rupanya melihat praktik demokrasi yang menyimpang. Laman yang 12 tahun menjadi anggota dewan selama ini memang dikenal cukup “vokal” untuk ukuran seorang anggota dewan apalagi dari F-ABRI. “Yang dituntut dari seekor burung adalah kicauannya, tapi yang dituntut dari seorang anggota dewan rupanya……”

Laman tidak melanjutkan kalimatnya. Ia dicopot dari F-ABRI secara tiba-tiba walau masa baktinya  masih sekitar lima bulan. Namun, ketua F-ABRI setempat Soetopo JS membantahnya, dengan alasan Laman sudah memasuki masa pensiun.

Saat upacara pengangkatan anggota antarwaktu digedung DPRD, Kamis (20/2) Laman Siswomihandoyo dengan gaya dramatis membaca puisi berisi “uneg-uneg” nya. Berjudul Kebangetan (Keterlaluan) puisinya berbunyi, “Apa salahku sampai kau meninggalkan aku? Semoga bisa ketemu di lain waktu…”

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: