Beda Budaya Masalah Tilang

Ilustrasi

“Tutuplah pintu hatimu bagi kejahatan dan bukalah lebar bagi kebaikan. Bila citra diri kita kuat, kita akan lebih mudah memanfaatkan penolakan”

Berurusan dengan orang asing memang bisa bikin pusing kepala. Tidak hanya masalah bahasa yang bikin megap-megap, problem budaya pun bisa menyandung kaki. Contohnya ketika Tim Yustisi Gabungan Pemda Bandung, Bali, membersihkan Kuta dari pelanggar parkir, sabtu (15/2) lalu. Begitu sang komandan, kabag hukum pemda bandung, Aan Kusa berseru, “Ayo kita mainkan!” segera saja para petugasdari kepolisian, pemda DLLAJ dan hansip, “menyapu” jalan sepanjang Legian. Tak ada masalah berarti yang menghadang anggota tim. Mereka yang mekanggar langsung disikat, ditilang atau diderek. Tidak peduliapakah itu sepeda motor atau Mercedes Benz. Masalah baru muncul ketika petugas menindak jeep hijau DK 8037 ER. Pasalnya, si pengemudi ternyata adalah wisatawan asing yang bersikeras ia tidak melanggar aturan apapun.
“Saya merasa tidak melanggar hukum. Di Perancis memang ada juga daerah larangan parkir. Hanya saja larangan itu berlaku dari senin hingga jumat, sabtu dan minggu kita boleh parkir. Lagi pula pemilik toko tadi mengizinkan saya parkir di sini,” kata wisatawan sambil tersenyum-senyum yakin. Sialnya, petugas yang menangani wisatawan itu kurang lancar berbahasa inggris. Debat pun jadinya berkepanjangan. Akhirnya, dengan campur tangan para wisatawan sebagai penerjemah, polisi berhasil mengumpulkan data mengenai si pelanggar. Namanya Vincent Martin, umur 31 tahun, alamatnya di Paris, Perancis, pekerjaannya arsitek dan ia tetap tidak merasa melanggar aturan parkir.

Debat memanas saat polisi meminta Martin menyerahkan STNK. Ia berkilah polisi sudah memperoleh data dirinya, sehingga tidak perlu lagi meminta surat kendaraannya. Lagi pula, menurutnya,  pihak rent car melarangnya menyerahkan surat kendaraannya kepada polisi.

“Mereka (rent car _ Red) melarang saya memberikan surat ini kepada polisi. Mereka katakan bahwa bila bertemu polisi cukup berikan uang saja, jangan berikan surat. Ini saya punya 200 dollar untuk bayar,” katanya dengan sengit.

Para polisi pun kehilangan kesabaran dan mengultimatum Martin kendaraannya akan diderek bila tidak menyerahkan STNK. Sambil bersungut-sungut Martin melemparkan STNK tersebut di atas  kap kendaraan. Ia kemudian menggerutu proses hukum yang menimpanya tidak normal. “Lho, malah ini proses normal, yang tidak normal itu justru kalau kamu mencoba membayar polisi, sepereti tadi,” balas seorang petugas dengan gemas.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: